Kordiyana, K.Rangga and Otik, Nawansih and Rabiatul, Adawiyah (2015) KAJIAN SISTEM KEWASPADAAN PANGAN DAN GIZI (SKPG) BERDASARKAN WILAYAH PEDESAAN DAN WILAYAH PERKOTAAN DI PROVINSI LAMPUNG. Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

[img]
Preview
Text
KAJIAN SISTEM KEWASPADAAN PANGAN DAN GIZI (SKPG) BERDASARKAN WILAYAH PEDESAAN DAN WILAYAH PERKOTAAN .pdf

Download (3MB) | Preview

Abstract

Kajian Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) di Provinsi Lampung secara umum bertujuan untuk menganalisis Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) di Provinsi Lampung, berdasarkan Wilayah Pedesaan (Perkebunan), dan wilayah perkotaan. Secara khusus: (1) menganalisis dan mendeskripsikan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) berdasarkan wilayah perkotaan di Provinsi Lampung, dan (2) menganalisis dan mendeskripsikan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) berdasarkan wilayah perdesaan (perkebunan) di Provinsi Lampung. Pemilihan Kota Metro dan Kabupaten Lampung Barat sebagai sumber data kajian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan ingin memperoleh informasi tentang implementasi indikator SKPG yang telah dilakukan yang dapat mewakili spesifikasi wilayah berdasarkan tipe ekologi wilayah di Propinsi Lampung. Secara garis besar Propinsi Lampung terdiri dari wilayah perkotaan/jasa, pertanian, perkebunan dan perikanan, sehingga wilayah Kota Metro yang mewakili wilayah perkotaan dan Kabupaten Lampung Barat mewakili wilayah perkebunan di Propinsi Lampung. Selain itu ketersediaan dan kesinambungan data SKPG yang diperoleh pada masing-masing dinas instansi terkait menjadikan bahan pertimbangan lain dalam penentuan lokasi ini. Waktu pengumpulan data SKPG dilakukan mulai dari bulan April hingga bulan Juli 2015. Hal ini sehubungan dengan data SKPG bulanan yang dikumpul- kan melalui dinas dan instansi terkait seperti BPS, Bulog, Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan setiap bulan yaitu data bulan April, Mei, Juni, dan Juli 2015. Data yang dikumpulkan dalam kajian SKPG adalah berupa data sekunder tentang situasi pangan dan gizi yang telah dikumpulkan oleh tim dinas dan instansi terkait, baik data bulanan maupun data tahunan. Data yang dikumpulkan berdasarkan tiga aspek ketahanan pangan, yaitu: (1) ketersediaan, (2) akses terhadap pangan, (3) pemanfaatan pangan. Selain itu dikumpulkan data spesifik lokal yang berasal dari laporan Tim Pokja Kabupaten. Pengolahan dan analisis data dilakukan berdasarkan pada Pedoman Umum SKPG 2015.untuk tingkat propinsi yang terdiri dari analisi situasi pangan dan gizi bulanan dan analisis situasi pangn dan gizi tahunan. Analisis situasi pangan dan gizi dilakukan didasarkan pada tiga aspek ketahanan pangan yaitu aspek keterse- diaan pangan, aspek akses pangan dan aspek pemanfaatan pangan baik periode bulanan maupun tahunan. Analisis deskriptif kualitatif juga dilakukan pada data-data yang menjadi faktor pendukung situasi pangan dan gizi pada masing-masing aspek ketahanan pangan. Berdasarkan hasil analisis data dan deskriptif terhadap indikator-indikator ketersediaan pangan, akses terhadap pangan serta pemanfaatan pangan bulanan dan tahunan di Kota Metro yang mewakili wilayah perkotaan dan Kabupaten Lampung Barat mewakili wilayah perkebunan di Propinsi Lampung tahun 2015 dapat disimpulkan sebagai berikut : (1) berdasarkan aspek ketersediaan pangan, kondisi ketahanan pangan di wilayah Kota Metro pada periode bulan Mei 2015 relatif lebih baik dibandingkan periode lainnya, (2) berdasarkan aspek ketersediaan pangan, kondisi ketahanan pangan bulanan di wilayah Kabupaten Lampung Barat pada periode bulan Juli 2015 relatif lebih baik dibandingkan periode lainnya, (3) berdasarkan aspek ketersediaan pangan, kondisi ketahanan tahunan di wilayah Kabupaten Lampung Barat relatif lebih baik dibandingkan wilayah Kota Metro, (4) pada Aspek Akses terhadap pangan, tidak ada kecamatan yang masuk dalam kategori rawan dan semua kecamatan masuk dalam kategori aman, (5) berdasarkan aspek pemanfaatan pangan, kondisi ketahanan pangan di kedua wilayah yaitu Kota Metro dan Kabupaten Lampung Barat pada periode bulan April 2015 relatif lebih baik dibandingkan periode lainnya , sedangkan berdasarkan analisis data tahunan, kedua wialayah tersebut berada pada kondisi aman, (6) kondisi ketahanan pangan didasarkan pada indeks komposit bulan (IKB) di Propinsi Lampung yang dalam hal ini diwakili oleh Kota Metro dan Kabupaten Lampung Barat yang masing-masing mewakili daerah perkotaan dan daerah perdesaan pada periode April hingga Juli 2015 sebagian besar berada pada kategori rawan. Berdasarkan analisis data tahunan indeks komposit tahunan (IKT) didapatkan Kota Metro berada pada kategori waspada yang relatif lebih baik dibandingkan Kabupaten Lampung Barat yang berada pada kategori rawan, (7) Kabupaten Lampung Barat sebagai wakil wilayah perkebunan dan Kota Metro sebagai wakil wilayah kota menunjukan kondisi akses pangan tahunan dengan status yang berbeda. Kabupaten Lampung Barat rawan sedangkan Kota Metro waspada, (8) berdasarkan data situasi pangan dan gizi bulanan Kabupaten Lampung Barat memilki kondisi ketahanan pangan relatif lebih baik dibandingkan Kota Metro sepanjang pada periode bulan April hingga Juli 2015 dengan jumlah wilayah relatif lebih banyak pada kategori aman. Kondisi sebaliknya yaitu berdasarkan data situasi pangan dan gizi tahunan diketahui bahwa situasi pangan dan gizi di Kabupaten Lampung Barat relatif tidak lebih baik dibandingkan Kota Metro, (9) secara umum berdasarkan data tahunan kondisi situasi pangan dan gizi di Kota Metro relatif lebih baik dibandingkan di Kabupaten Lampung Barat yang sekaligus menggambarkan kondisi tingkat kerawanan pangan di masing-masing wilayah . Kondisi sebaliknya jika dilihat berdasarkan data bulanan, dimana Kota Metro relatif tidak lebih baik dibandingkan Kabupaten Lampung Barat. Kondisi ini dimungkinkan karena adanya perbedaan jenis data yang digunakan pada analisis situasi pangan dan gizi bulanan dan tahunan. Rekomendasi dalam kajian ini adalah: (1) mengingat di Kota Metro dan Kabupaten Lampung Barat masih banyak didapatkan lahan tidur, maka perlu peningkatan pemanfaatan lahan tidur sebagai lahan pertanian dan perkebunan, (2) dalam rangka mengatasi kekurangan air akibat musim kemarau, atau menjamin ketersediaan air untuk budidaya pertanian, maka perlu peningkatan atau membangun/rehabilitasi kantung-kantung air seperti embung, dam atau sumur bor, (3) dalam rangka peningkatan produksi, perlu penggunaan varietas unggul dan tahan hama penyakit, (4) perlu dilakukan langkah-langkah antisipasi kenaikan harga bahan pokok bagi masyarakat dengan menjamin ketersediaan bahan pangan pokok melalui pemantauan alur distribusi, peningkatan produksi dan penumbuhan industri, dan (5) peningkatan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat, terutama masyarakat miskin .

Item Type: Other
Subjects: S Agriculture > S Agriculture (General)
Divisions: Fakultas Pertanian (FP) > Prodi Agribisnis
Depositing User: KORDIYANA
Date Deposited: 18 Jun 2021 01:50
Last Modified: 18 Jun 2021 01:50
URI: http://repository.lppm.unila.ac.id/id/eprint/32660

Actions (login required)

View Item View Item