Anggraini, Dwi Indria and Roro, Rukmi W P and Pairul, Piesta Prima Beta (2019) Diagnosis dan Tatalaksana Skrofuloderma pada Anak dengan Infeksi Human Immunodeficiency Virus dan Gizi Buruk. JK Unila JURNAL KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG, 3 (2). pp. 296-300. ISSN 2527-3612

[img]
Preview
Text
2518-3214-1-PB.pdf

Download (778kB) | Preview
Official URL: https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/JK/a...

Abstract

Latar belakang: Skrofuloderma merupakan tuberkulosis (TB) kulit sekunder yang disebabkan Mycobacterium tuberculosis dan terjadi perkontinuitatum. Skrofuloderma merupakan kasus yang jarang dan sering mengalami keterlambatan dalam diagnosis. Gambaran klinis skrofuloderma dapat menyerupai penyakit infeksi kulit lainnya. Skrofuloderma diawali dengan timbul benjolan di area kelenjar limfe yang makin membesar dan pecah membentuk ulkus dengan pinggir merah kebiru-biruan dan dinding bergaung. Pengobatan yang tidak tepat dan ketidakpatuhan dapat menyebabkan resistensi kuman tuberkulosis sehingga tidak memberikan respon terapi yang baik. Tujuan: melaporkan satu kasus pada seorang pasien anak dengan skrofuloderma dan Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) serta gizi buruk. Kasus: seorang anak perempuan berusia 6 tahun dengan keluhan timbul benjolan-benjolan dan menjadi luka pada area pinggang, perut bawah, dan lipat paha sejak 4 bulan yang lalu. Keluhan tidak nyeri atau gatal. Pada regio flank, suprapubik dan inguinal sinistra tampak ulkus multipel, dangkal, bentuk iregular, tepi livide, dinding bergaung dan dasar bersih. Pada inguinal dextra tampak nodul soliter, ukuran 3x4 cm, bewarna livide. Pada pemeriksaan rontgen thoraks terdapat gambaran TB paru dengan skoring TB diperoleh skor 7. Pemeriksaan HIV diperoleh hasil reaktif. pasien menderita gizi buruk dengan berat badan/umur pasien kurang dari 80%. Pasien didiagnosis dengan skrofuloderma, TB paru, HIV, dan gizi buruk. Penatalaksanaan: pemberian obat oral antituberkulosis (OAT) pada anak berupa rifampisin, isoniazid, pirazinamid, etambutol selama 2 bulan dan dilanjutkan dengan rifampisin dan Isoniazid selama 4 bulan. Hasil terapi memberikan hasil baik. Kesimpulan: Skrofuloderma terjadi secara perkontinuitatum pada pasien anak dengan TB paru dan dapat sembuh dengan pengobatan oral OAT. Kata kunci: gizi buruk, HIV, skrofuloderma, tuberkulosis, obat antituberkulosis

Item Type: Article
Subjects: R Medicine > RJ Pediatrics
R Medicine > RL Dermatology
Divisions: Fakultas Kedokteran (FK) > Prodi Pendidikan Dokter
Depositing User: DWI INDRIA ANGGRAINI
Date Deposited: 31 May 2020 07:52
Last Modified: 31 May 2020 07:52
URI: http://repository.lppm.unila.ac.id/id/eprint/21270

Actions (login required)

View Item View Item