Indriyanto, . and Harianto, S. P. (2004) Kondisi Jenis Tumbuhan Liar Berkhasiat Obat di Kawasan Hutan Register 19 Gunung Betung Propinsi Lampung. Media Medika Indonesiana, 39 (1). pp. 23-27. ISSN 0126-1762

[img] Text
Indriyanto & Sugeng P. Harianto (2004)_Kondisi jenis tumbuhan liar berkhasiat obat.pdf

Download (1MB)
[img] Text
Indriyanto & Sugeng P. Harianto (2004)_Kondisi jenis tumbuhan liar berkhasiat obat.pdf

Download (1MB)

Abstract

Pembangunan hutan pada prinsipnya adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia akan materi seperti hasil-hasil hutan, dan kebutuhan manusia akan jasa dari hutan seperti jasa rekreasi, pengendali iklim, dan pengatur proses hidro-orologi. Perlu diketahui bahwa hutan merupakan sumber daya alam yang sangat berguna dalam menghasilkan bahan obat-obatan maupun hasil-hasil hutan lainnya. Oleh karena itu, hutan perlu dikelola secara baik demi kelestarian hasil dan keseimbangan ekosistem hutan. Salah satu langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengetahui kondisi jenis tumbuhan liar yang berkasiat obat di dalam kawasan hutan register 19 Gunung Betung, Provinsi Lampung mencakup jumlah, penyebaran, jenis yang dominan, dan indeks keanekaragaman. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober hingga November 2002. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis vegetasi tumbuhan bawah (undergrowth) yang mencakup semak, herba, liana, dan anakan pohon, kemudian identifikasi jenis tumbuhan tersebut untuk mengetahui kondisi jenis tumbuhan liar yang berkasiat obat. Hasil analisis vegetasi tumbuhan bawah telah bias diketahui bahwa jumlah jenis tumbuhan bawah sebanyak 53 jenis, di mana 47 jenis merupakan tumbuhan obat, 9 jenis merupakan tumbuhan obat yang terancam punah (langka) yaitu lempuyang wangi (Zingiber aromaticum), patikan (Euphorbia hirta), pule (Alstonia scholaris), paku sayur (Diplazium esculentum), gandri (Bridelia monoica), salam (Eugenia polyantha), gambir hutan (Jasminum pubescens), dempul lelet (Glochidion molle), dan serai (Andropogon nardus). Jenis tumbuhan obat yang dominan di areal hutan alam sekunder register 19 Gunung Betung berdasarkan summed dominance ratio (SDR) adalah senggani (Melastoma malabathricum), meniran hutan (Callicarpa cana), teki (Cyperus rotundus), alang-alang (Imperata cylindrica), rumput jarum (Andropogon aciculatus), paku sayur (Diplazium esculentum), dan lengkuas (Alpinia galanga). Indeks keanekaragaman tumbuhan (H) di areal hutan alam sekunder adalah sebesar 1,6681. Adapun jenis tumbuhan obat yang dominan di areal garapan petani dalam kawasan hutan register 19 Gunung Betung adalah rumput jarum, meniran utan, dan harendong bulu (Clidemia hirta). Indeks keanekaragaman tumbuhan (H) di areal garapan petani dalam kawasan hutan sebesar 1,1349. Berdasarkan jumlah jenis maupun indeks keanekaragaman (H), ternyata kondisi jenis tumbuhan obat di areal hutan sekunder lebih bagus dibandingkan dengan di areal garapan petani. Oleh karena itu, disarankan supaya para petani yang melakukan kegiatan budidaya di kawasan hutan, tetap menjaga keanekaragaman hayati termasuk keanekaragaman jenis tumbuhan obat yang ada di dalamnya.

Item Type: Article
Subjects: S Agriculture > SD Forestry
Divisions: Fakultas Pertanian (FP) > Prodi Kehutanan
Depositing User: INDRIYANTO
Date Deposited: 16 Mar 2020 02:12
Last Modified: 16 Mar 2020 02:12
URI: http://repository.lppm.unila.ac.id/id/eprint/18697

Actions (login required)

View Item View Item