Meutia, Intan Fitri (2018) MODEL KEBIJAKAN LEMBAGA PEMBINAAN KHUSUS ANAK (LPKA) RAMAH ANAK BERBASIS KEMANDIRIAN DAN BUDI PEKERTI. FISIP, Universitas Lampung, Universitas Lampung. (Submitted)

[img] Text (Penilaian rekan sejawat)
ModelLPKA.docx

Download (1MB)
[img] Text (Laporan penelitian)
IntanFitriMeutia,Ph.D_UniversitasLampung_PPS.pdf.pdf

Download (1MB)
Official URL: http://repository.lppm.unila.ac.id/id/17835/

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dalam perspektif sosiologis administrasi hukum. Dimana penelitian ini akan mendeskripsikan dan menganalisa pada proses formulasi kebijakan model dari lembaga permasyarakatan (lapas) anak yang menekankan bagaimana memberikan pendidikan dengan prinsip equalitas terhadap sekolah anak-anak biasa, untuk anak-anak di lapas akan lebih dominan pada pendidikan budi pekerti yang luhur. Memberdayakan kaum muda dan mempersiapkan mereka untuk sukses dalam pengetahuan ekonomi di masa depan merupakan fokus pendidikan yang berkualitas saat ini sesuai dengan tujuan keempat dari tujuh belas tujuan pembangunan yang berkelanjutan - Sustainable Development Goals (SDGs). Untuk itu diperlukan deskripsi awal atas peluang dan tantangan bagi pendidikan kaum muda, khususnya kaum muda marginal seperti anak-anak penghuni lapas. Anak-anak lapas nantinya akan diperkenalkan dengan economic-literacy (paengetahuan ekonomi) untuk membentuk kemandirian. Pengetahuan ekonomi ini dapat dimanfaatkan untuk masa depan melalui kerangka pikir dan visi enterpreneurship. Pembentukan kemandirian juga berkaitan dengan lifeskill (kemampuan diri) anak itu sendiri dalam rangka integrasi pasca keluar dari lapas, sekaligus untuk membangun kemandirian pendanaan lapas semasa anak-anak dibina di lapas tersebut. Model lifeskill yang dikonsep nantinya tentu akan disesuaikan dengan usia dan tumbuh kembang anak, ini bertujuan untuk menciptakan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak) yang adaptif akan konsep ramah atau layak anak. Lokasi penelitian adalah pada LPKA Tegineneng, Propinsi Lampung. Saat ini (pra-riset Januari 2018) jumlah anak penghuni lapas di LPKA Tegineneng sebanyak 359 orang anak. Rentang usia 14-18 tahun dengan tingkat pendidikan SD (Sekolah Dasar), SMP (Sekolah Menengah Pertama), SMA (Sekolah Menengah Atas). Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar aparatur LPKA memfasilitasi dengan mendatangkan guru dengan proses pendampingan dari NGO anak di Pesawaran, Lampung tanpa adanya koordinasi dengan pihak pemerintahan terkait langsung yaitu dinas Pendidikan. Model kebijakan yang akan diformulasikan nanti diharapkan dapat diterapkan secara langsung untuk anak-anak lapas selama menjalani masa hukumannya sesuai dengan UU yang berlaku. Kebijakan yang dibuat nantinya dapat diaplikasikan melalui sistem pendidikan yang menitikberatkan pada hasil akhir kemandirian dan budi pekerti. Tujuannya agar anak-anak selama di lapas mendapatkan ilmu pengetahuan (lifeskill) yang sesuai prinsip kewirausahaan untuk membentuk pribadi mandiri dan budi pekerti yang sesuai untuk penguatan moral agar anak-anak setelah menyelesaikan pendidikan di LPKA mampu untuk bersosialisasi dengan lingkungan masyarakat. Lapas diharapkan punya prioritas dalam membangun pusat pelatihan kreatifitas mandiri anak muda, seperti halnya BLK (Balai Latihan Kerja), contoh untuk media pembelajaran aplikatif (pelajaran menulis, menggambar dan bermain musik), latihan verbal (menyanyi, pidato, ceramah) dan hard skill (keterampilan).

Item Type: Other
Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) > Prodi Administrasi Negara
Depositing User: Intan Fitri Meutia
Date Deposited: 04 Mar 2020 01:17
Last Modified: 04 Mar 2020 01:17
URI: http://repository.lppm.unila.ac.id/id/eprint/18226

Actions (login required)

View Item View Item